K.H. Aminudin Saleh

Karena pembahasan surat Al-Fatihah ala kadarnya sudah selesai, sebelum melanjutkan pengkajian surat berikutnya, penulis akan mengajak dulu para pembaca mengetahui bagaimana cara kita mengkaji Al-Quran.

Umat Islam sadar, bagaimana pentingnya mengkaji Al-Quran, bahkan umat Islam kenal betul hadits yang menerangkan, orang yang berpegang teguh (ngagugulung, Sunda) kepada Al-Quran insya Allah akan mendapat syafaat di akhirat nanti, sehingga kita tidak heran kalau banyak jamaah yang menyelenggarakan pengajian.

Sayang, istilah “ngaji” Al-Quran di masyarakat kita banyak diartikan cuma “tilawah”, belum sampai kepada tahap “pengkajian”. Penulis kira pengertian ini tidak salah kalau dalam tahap permulaan, yang seharusnya dilanjutkan dengan betul-betul “pengkajian”, sebab membacanya saja akan mendapat pahala besar.

Jangankan yang sudah pandai, bagi yang terbata-bata pun setiap huruf yang dibacanya berpahala besar. Namun tentu saja alangkah lebih besar lagi hikmahnya kalau kita mengkaji Al-Quran sampai memahami isinya dan mengamalkan seoptimal mungkin, sesuai dengan kemampuan kita. Untuk itu, mari kita lihat sepintas bagaimana tahapan “pengkajian” ini.

METODE PENGKAJIAN

Mengkaji Al-Quran dilakukan melalui dua tahap. Tahap I dengan cara membacanya. Tahap II memahami isinya.

Untuk belajar membaca tidak menjadi persoalan karena sudah banyak metode yang disusun oleh para ulama. Kalau beberapa dekade yang lalu masih banyak yang buta huruf Al-Quran akaibat mereka enggan mempelajarinya, karena beranggapan belajar membacanya saja suatu kesulitan yang lumayan, apalagi agar membacanya benar harus juga mempelajari ilmu tajwid dan sebagainya, namun alhamdulillah zaman kini, anak SD pun rata-rata sudah bisa baca Al-Quran, baik karena belajar di TKA, TPA, atau lainnya.

Bahkan kini banyak yang menawarkan privat belajar membaca Al-Quran. Hal ini diperkuat dengan dikembangkannya berbagai metode untuk mempermudah orang mempelajarinya, sehingga ada yang menawarkan Cuma beberapa jam dijamin bisa baca Al-Quran. Metode itu sendiri selalu berkembang.

Bandingkanlah bagaimana lamanya waktu yang diperlukan untuk belajar membaca Al-Quran dengan metode “lama” yang dieja (Baghdady) dengan berbagai metode yang kini muncul, semacam metode IQRA, BARQI, LIBAT, ALJABARI, SELARAS, TAQUA, dan sebagainya.

KHATAM 30 JUZ DENGAN CEPAT

Bagi yang sudah mahir membaca Al-Quran namun ingin khatam (tamat) membacanya berkali-kali tiap tahun, sebetulnya relatif mudah, tidak usah bulan Ramadhan saja, kapan pun bisa. Caranya cukup banyak, di antaranya dengan berusaha membaca Al-Quran waktu shalat tiap rakaat satu halaman.

Jumlah halaman Al-Quran rata-rata sekitar 500 halaman (kalaupun lebih atau kurang dari itu jumlahnya relatif sedikit). Kita ingat pula, setiap shalat fardhu di samping harus membaca surat Al-Fatihah tiap rakaat, ditambah surat-surat lain pada rakaat kesatu dan kedua, sehingga kalau setiap rakaat kita bisa baca satu halaman, paling sedikit setiap hari pada shalat fardhu saja kita baca tidak kurang dari 10 halaman.

Kalau ditambah dengan shalat tahajjud yang 11 rakaat, tentu tiap hari akan kita baca tidak kurang dari 20 halaman. Yang perlu kita ingat, tentu memilih Al-Quran yang cukup gede, bisa kita baca waktu shalat dengan jalan kita simpan di depan memakai alat khusus (sandaran) serta tidak mengganggu kekhusyu’an shalat yang tentu ukurannya disesuaikan. Contoh di Bandung, Al-Quran yang biasa dipersiapkan di depan imam, terutama waktu shalat tarawih di Masjid Salman, padahal mungkin imam itu seorang hafidz Al-Quran.

Dengan upaya begitu, tentu setiap bulan kita akan khatam Al-Quran. Keuntungan cara ini antara lain:

1. Tidak memerlukan waktu khusus untuk membacanya.

2. Mendorong kita rajin melaksanakan shalat tahajjud.

3. Konsentrasi kepada ayat yang kita baca, karena kedua mata terfokus kepada yang kita baca.

Namun tentu saja kelemahannya pun ada, antara lain:

1. Tidak semua ulama sepakat memperbolehkan cara ini sebab shalat merupakan ritual khusus dengan syarat-syarat khusus pula, tapi penulis banyak melihat hal ini dilakukan di luar Jawa semacam di Aceh, Kalimantan Timur, dan sebagainya.

2. Bagi mereka yang belum bisa bahasa Arab (khususnya bahasa Al-Quran) tentu tidak bisa langsung memahami maksudnya.

3. Memerlukan Al-Quran ukuran khusus pula, terutama standar yang bisa menghalangi ruku dan sujud.

Kalau hal itu tidak bisa dilaksanakan karena syarat-syarat tadi, masih banyak cara lain, di antaranya meluangkan waktu 5 menit sebelum shalat dimulai, atau sesudahnya, untuk membaca Al-Quran.

Ternyata, meskipun cuma 5 menit, tapi cukup efektif, sebab bagi yang sudah lancar membacanya bisa menyelesaikan sekitar 5 halaman. Berarti kalau setiap hari kita baca 5×5 halaman, tentu bisa kita selesaikan membaca Al-Quran sekitar 25 halaman. Sehingga waktu yang digunakan untuk khatam Al-Quran tidak begitu jauh berbeda dengan cara di atas. Keuntungan membaca (dengan cara) begini:

1. Hampir setiap ulama insya Allah membolehkannya.

2. Bisa sekalian mengamati artinya dengan membaca Al-Quran yang ada terjemahannya.

Bagi yang sungguh-sungguh ingin hapal betul terjemahan Al-Quran kata demi kata, setiap menemukan kalimat (kata) yang belum tahu artinya bisa dicatat atau diberi tanda lalu dihapalkan.

Sebenarnya masih banyak cara-cara lain untuk bisa khatam Al-Quran dengan cepat dan mudah, yang tentu pahalanya amat besar. Bahkan ada orang yang membiasakan khatam Al-Quran satu juz tiap hari.

MEMAHAMI ARTI

Untuk memahami arti dan maksudnya, kalau dipelajari berurutan, tentu memerlukan waktu yang lama. Untuk mengatasi waktu yang lama ini, cobalah upaya berikut ini.

Gunakanlah asas-asas deduksi dan induksi, sehingga kalau dikumpulkan kosa kata dari Al-Quran, baik yang jamid maupun yang musytaq tidak lebih dari sekitar 3.000 kosa kata, lalu kita gunakan Ilmu Sharaf, tiap satu kosa kata bisa berkembang menjadi 92 kata.

Untuk memahami terjemahnya tentu harus belajar bahasa Arab, baik untuk sehari-hari maupun fokus Al-Quran. Kini ada anggapan sebagian orang untuk memahami terjemahannya tidak perlu mempelajari tata bahasa Arab dengan cukup mendalam. Buktinya orang Arab pun pandai ngomong dan mengerti perkataan orang lain, baik lisan maupun tertulis, padahal mereka tidak menguasai tata bahasa Arab, terutama ilmu nahwu dan sharaf.

Mempelajari tata bahasa Arab itu cukup lama waktunya, bahkan di pesantren memerlukan waktu bertahun-tahun, sehingga ada yang tidak mengajarkan ilmu nahwu dan sharaf di sekolahnya. Menurut anggapan penulis, pendapat ini ada benarnya, kalau belajar bahasa Arab hanya untuk digunakan sehari-hari, terutama untuk percakapan (muhadatsah).

Namun untuk menerjemahkan suatu buku, apalagi Al Quran, hal itu tidak mungkin, sebagaimana pengalaman penulis waktu mengajarkan bahasa Arab dari buku-buku terbitan barat di Majelis “Petuah” (Peantren Sabtu Ahad).

Pada dasarnya untuk mengetahui arti Al-Quran cukup dengan menguasai dua faktor utama, yakni:

1. Arti kata-kata (kalimat) dalam ayat Al-Quran.

2. Mengetahui tata bahasanya terutama ilmu nahwu dan sharaf.

METODE ALTERNATIF

Kita bisa mempelajari Al-Quran yang sudah diterjemahkan orang. Namun cara ini tentu cukup memakan waktu lama sebab harus dibaca rinci berurutan, dari ayat yang awal sampai akhir.

Bagi mereka yang tidak punya kesempatan ikut “nyantri” di pesantren atau tidak mempunyai waktu cukup, barangkali cara yang akan penulis sampaikan ini bisa dijadikan salah satu alternatif.

1. Carilah kamus bahasa Arab yang memilah-milah mana kalimat jamid dan mana kalimat musytaq (mutasharrif) khusus dari Al-Quran.

2. Hapalkan kosa kata dalam kamus tersebut dengan menggunakan Quantum Learning, apakah itu dengan cara Mnomenic, Senandung, Mind Mapping, atau lainnya sesuai dengan kebutuhan.

3. Lalu kita hapalkan potongan-potongan ayat yang mengandung tertentu yang mungkin punya arti berbeda padahal kalimatnya sama.

Dengan cara tersebut pengalaman menunjukkan, untuk menghapal terjemahan Al-Quran tidak memerlukan waktu lama. Bahkan lebih lama belajar membacanya secara tradisional daripada mempelajari artinya, yakni cukup 22 jam saja.

Bahkan untuk mempelajari Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf dengan Quantum Learning ini menunjukkan, bisa dipelajari hanya masing-masing dalam waktu satu minggu. Bukankah kita menghemat waktu yang lumayan kalau mestinya tiga tahun bisa disingkat hanya satu minggu?

Sumber: alhikmah, No. 9/Rabiul Awal 1428 H