Diambil dari eramuslim Selasa, 11 Des 07 04:16 WIB

Assalamu’alaikum wr. Wb

Apa kabar Ust. Satria? Moga Antum selalu dalam lindungan Allah Swt., beserta keluarga amin.

Saya ingin menanyakan, bagaimana solusinya agar belajar kita tetap kontinyu tanpa ada rasa malas? Soalnya saya sudah sebulan merasa tertinggal sekali dalam mempejari buku diktat kuliah, bukan hanya itu saya menjadi susah sekali untuk memulainya dari pertama! Saya seakan telah dibawa arus jauh sekali. Bagaimana Ustaz solusinya agar saya dapat mengejar ketertinggalan saya?!

Atas perhatiannya saya ucapkan ribuan terima kasih.

Rusdi Pane

Jawaban

Wa’alaikum salam wr wb.

Malas melakukan sesuatu merupakan dalih yang paling berbahaya karena ia dapat membunuh potensi Anda. Ketika rasa malas muncul, Anda akan tampil di bawah potensi maksimal, sehingga seakan-akan menjadi tidak berharga dan tidak bermanfaat di hadapan orang lain dan lingkungan Anda. Padahal Nabi saw telah menganjurkan setiap manusia agar bermanfaat untuk lingkungannya. “Yang paling baik di antaramu adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain” (Al-Hadits).

Karena itu, rasa malas harus diperangi. Malas membuat potensi seseorang menjadi terpendam atau muncul tapi terlambat. Malas membuat seseorang bagaikan lumpuh. Tak bertenaga dan tak berdaya untuk menghindarinya. Pikirannya menjadi irasional, jiwanya kosong dan perbuatannya menjadi tak bertanggung jawab. Ironisnya mereka yang malas sering menghibur diri dengan mengatakan, “suatu ketika saya pasti akan melakukannya”. Tapi nyatanya yang sering terjadi justru ia semakin menunda-nunda melakukan pekerjaan itu. Mungkin malah sama sekali tidak pernah dilakukannya sampai akhir hayatnya. Akibatnya, hanya penyesalanlah yang ia tuai.
Cara yang paling efektif adalah dengan mengerjakan apa saja yang menurut Anda harus dilakukan. Jangan ditunda dan jangan mencari alasan! Apapun alasan untuk menunda pekerjaan itu, lupakanlah! Sebab sebagian besar alasan adalah alasan yang dicari-cari. Ali bin Abu Thalib ra berkata: “Sesungguhnya kalau Anda menunda pekerjaan, maka alasan ketakukan akan kegagalan pekerjaan tersebut akan semakin besar daripada Anda melakukan pekerjaan itu sekarang juga!”. Jadi menunda pekerjaan, akan membuat otak Anda bekerja mencari seribu alasan untuk semakin menunda pekerjaan itu.

Saudara Rusdi Pane, Anda harus dapat merubah pemikiran Anda menjadi lebih optimis. Lupakan ketakutan akan kegagalan karena ketakukan akan kegagalan merupakan senjata ampuh bagi otak Anda untuk membuat Anda menunda pekerjaan. Padahal Andalah yang seharusnya mengendalikan otak Anda, bukan sebaliknya.

Karena itu, buanglah rasa takut gagal Anda yang membuat Anda menunda-nunda pekerjaan. Dan jadikan optimisme menjadi pola hidup Anda yang tak mengenal putus asa. Karena putus asa hanya milik orang yang kafir (terhadap nikmat Allah), bukan milik orang yang beriman kepada Allah. “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang yang kafir” (QS. Yusuf: 87).

Ketahuilah, seringkali semangat melakukan suatu pekerjaan justru semakin besar bersamaan dengan saat Anda melakukan pekerjaan tersebut. Semangat bekerja seringkali muncul bukan sebelum melakukan pekerjaan, tapi pada saat Anda melakukan pekerjaan tersebut. Karena itu pada surah At Taubah ayat 41 di atas, Allah menyuruh kita berangkat (melakukannya) tanpa memperdulikan perasaan kita (ringan atau berat, suka atau tidak suka). Sebab semangat dan kesungguhan (jihad) itu muncul bersamaan dengan pelaksanaan pekerjaan itu.

Inilah rahasia mengatasi rasa malas, sehingga Allah menutup ayat itu dengan kalimat “yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.

Semoga bermanfaat