Pagi tadi Sabtu, 11 Oktober 2008 pak Toni dikabarkan meninggal dunia, padahal tadi malam saya dapat kabar dari bu Syaiful bahwa pak Toni dirawat di ICU Santo Yusuf karena pecah pembuluh darah ke otak. Tadi malam saya memang dalam kondisi lelah setelah bekerja dan olah raga di kantor, juga saya tidak berusaha untuk dapat menjenguknya malam itu karena kondisi yang lelah. Akhirnya setelah shubuh di mesjid at takwa, pak endro memberi pengumuman tentang kondisi pak Toni dimana dokter-dokter sudah angkat tangan, tinggal mukjizat saja yang akan menyembuhkannya. Dengan dipimpin oleh ustad hammad, maka kita semua berdoa untuk kesembuhannya, pada posisi tersebut sangat terasa bahwa kekuatan doa dari orang saleh sajalah yang akan sampai, sedangkan saya ? masih jauh, tetapi saya tetap berusaha untuk mendoakannya.

Pagi itu memang saya tidak akan sempat menjenguk atau melayat pak Toni karena sudah membuat janji ke Sumedang dengan bapak untuk menengok mang hasan yang dirawat di rumah sakit, sedangkan kepentingan saya adalah untuk mengurus masalah rumah di gang ita setelah lebih dari 2 bulan kosong. Pagi itu sebelum ke sumedang, saya sempat jalan pagi dengan istri ke tukang sayur di warung pak dedi blok G, dan sempat bertemu kirim SMS ke pak nana tentang kondisi pak toni, sedangkan kang nana sedang posisi di tasik. Saya juga sempat ketemu pak hutagalung, dan mengabarkan berita tentang pak toni. Dia kaget juga karena kemarin Jumat masih bertemu dengan pak toni dan malahan sempat ngobrol dengan pak toni yang naik motor pada saat itu.

Ketika tiba di panunjang sumedang saya dapat kabar SMS dari pak nana bahwa pak toni sudah meninggal pagi itu pukul 08.10, lalu saya coba hubungi istri dan memang ada kabar dari mesjid tentang pengumuman tersebut. Saya baru selesai dari urusan di sumedang dan sampai di Bandung sekitar pukul 4 sore, dan pak toni sudah dikuburkan di TMP Cikutra.

Saya memikirkan bahwa kemarin pak toni masih sempat jumatan di mesjid, siangnya tidur siang dan ketahuan sama keluarga tidurnya menjadi ngorok dan tidak sadar, lalu dibawa ke RS Santo Yusuf dan hari ini meninggal jadi hanya memakan waktu tidak lebih dari 19 jam beliau langsung berpulang. Waktu yang demikian singkat. Bagaimana kalau hal ini menimpa saya ? Apakah saya sudah siap ?

Jawaban pastinya pastilah tidak siap, karena saya belum melakukan action dalam usaha menghadap-Nya. Usahanya masih sangat minim, tidak terarah, tidak terstruktur, tidak terpola dengan baik. Bagaimana akan masuk surga, apakah ada orang yang sekonyong-konyong lulus ujian dengan nilai baik tanpa belajar dengan rajin dan tekun ? Teori manapun tidak akan ada yang mendukungnya kecuali masalah keberuntungan, tetapi bicara keberuntungan, prosentase berhasilnya akan sangat kecil kalau tidak dibilang mendekati nol untuk hal tersebut.

Allah semakin mengingatkan saya untuk segera sadar, semakin dekat saya dengan kematian, dimulai dari pak syaiful tetangga yang meninggal 2 atau 3 tahun lalu, lalu terakhir bi Leli mang yudi (dua hari sebelum lebaran atau 2 minggu lalu, lalu sekarang pak toni. Saya diingatkan untuk segera bersiap-siap menghadap-Nya. Hidup di dunia ini sementara, panggung sandiwara, ladang untuk beramal bagi yang mengetahui, modal untuk akhirat bila kita isi dengan amal saleh, ilmu yang bermanfaat dan menciptakan anak yang saleh dan salehah.

Bagaimana agar kita selalu dalam keadaan siap bila setiap saat dipanggil-Nya ? Tidak ada kata lain kecuali kita harus mempersiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya. Bagaimana cara kita mempersipakannya ? Itulah yang harus dibuat rumusannya, ada amalan sedikit tetapi besar pahalanya, dan sebaliknya memakan waktu yang banyak tetapi sedikit hasilnya. Galilah dengan ilmu, bisa lewat baca buku, tanya ustad, search via internet, muhasabah harian.