Senin, 13 Oktober 2008 bada isya saya menghadiri tahlilan malam ke 3 di rumahnya pak Toni (alm). Sebenarnya kehadiran saya di pertemuan tersebut hanya sekedar taziah dan silaturahmi antar warga. Saya pribadi tidak anti tahlilan, karena saya masih melihat dari sisi silaturahmi, sedangkan yang tidak setuju atas tahlilan juga saya menghormatinya.Bila dikaitkan dengan larangan untuk menyelenggarakan tahlilan karena tidak dicontohkan Rasulullah, memang ada hubungannya, karena setelah tahlilan tuan rumah jadi menyediakan makanan, dan kemungkinan besar hal ini merepotkan yang punya hajat, bila tidak disediakan maka mereka tidak enak hati, tetapi kalau disediakan menjadi repot tuan rumah.

Memang ada yang hadir tetapi tidak makan atau minum dalam acara tersebut, itupun tidak masalah karena ada yang berpendapat bahwa haram hukumnya makan dan minum di tempat orang yang meninggal, hal ini dimaksudkan agar si tuan rumah jangan sampai mempunyai perasaan tidak enak dimana harus menjamu tamunya yang akan melakukan tahlilan. Kalau mampu, kelihatannya tidak masalah, tetapi bila tidak mampu, maka ada ketakutan dicap tidak menyayangi orang yang meninggal dunia tersebut, tidak mengurus, tidak perhatian, dsb perkiraan orang lain akan menghantui bila tidak dilakukan acara tahlilan. Mungkin ini yang dilarang oleh Islam, yaitu memberatkan yang ditinggalkan, seperti ada kewajiban menyelenggarakan tahlilan beserta makan dan minumnya, bagaimana dengan yang kurang atau tidak mampu ? Sebenarnya tidak perlu diadakan dalam bentuk acara, hanya mungkin perlu taziah saja supaya yang ditinggalkan tidak merasa sendirian menghadapinya.