Yang maha pembolak balik hati, kadang hati ini resah, lalu hilang dan muncul lega ataupun sebaliknya, marah lalu senang, begitulah suasana hatiku yang selalu terombang ambing oleh keadaan, seharusnya tidak begitu, dalam keadaan apapun hati ni harusnya biasa saja. Artinya dalam suasana gembira sedih resah gelisah marah takut harusnya disikapi dengan konsisten yaitu hati yang penuh ketenangan tanpa gejolak, inilah tingkat tertinggi hati dan sulit untuk mencapainya.

Bagaimana cara mencapatinya? kita tanya dan search google dulu ah..

http://buddhist.dipankarajayaputra.com/

Tidak ada seorang pun diantara kita yang suka menderita, termasuk miskin, hidup kekurangan. Kita ingin hidup sejahtera, kita ingin makmur, ingin berkecukupan, bahagia, syukur kaya-raya. Tetapi, ada orang berkecukupan, ada orang makmur yang hidupnya gelisah; dan juga ada orang yang kecukupan, yang makmur, yang hidupnya cukup tenang. Sama-sama makmurnya, sama-sama kecukupannya, yang satu diliputi kegelisahan dan kekhawatiran, kemrungusung, tetapi yang satu lagi cukup tenang. Apa sebabnya? Sebabnya tidak lain karena beban mentalnya cukup banyak sehingga hidupnya tidak tenang, waswas, gelisah, khawatir, penuh ketegangan dan kemarahan. Makin berkurang beban mental itu hidupnya akan makin tenang. Apakah yang menjadi beban itu, hingga seorang yang terkena beban itu, meskipun makmur,dia gelisah? Beban itu tidak lain adalah keserakahan, kebencian, dendam, dan pandangan yang sempit.

Oleh karena itu, kalau kita menginginkan kemakmuran, hidup kecukupan, syukur menjadi kaya, berhati-hatilah dengan keserakahan, dengan dendam, iri hati dan kebencian. Dan perbanyaklah pengetahuan tentang kehidupan sehingga tidak mudah terombang-ambing, tidak mudah terseret hawa nafsu, pandangan kita tidak picik, dan sempit. Memang sukar, memang sulit. Tetapi kalau kita tidak menyadari ini, tidak berusaha untuk mengurangi keserakahan, mengurangi kebencian, dendam dan iri hati, tidak mau menambah pengetahuan untuk kepentingan kita sendiri; maka meskipun kita cukup makmur, kita menjadi orang yang tidak tenteram.

Apakah kita mau menjadi orang yang makmur tetapi tidak tenteram? Tidak ada orang yang mau seperti itu. Tidak usah makmur, hidup sedang-sedang saja, asalkan cukup, tetapi kita tenteram. Kalau kita menginginkan ketenteraman, beban mental itu harus dikurangi. Kalau beban itu tidak dikurangi, beban itu akan membebani kita. Kita menjadi orang yang gelisah, waswas, tidak tenteram, mudah terpancing, mudah marah, penasaran, jengkel, dan salah-salah bisa melakukan kejahatan.

Kesimpulan:

– kurangi keserakahan, rasa ingin lebih banyak lagi yang didapat padahal yang sudah ada lebih dari cukup –> caranya dengan rasa cukup (qanaah)

– Kurangi kebencian, iri hati, dengki dengan mendoakan orang yang dibenci dan minta agar dimudahkan kepada orang yang dibenci tsb.

– dendam idem dengan kurangi kebencian.

– pandangan sempit, dengan membuka lebih luas cara pandang kita.