Penulis: Jonru

Sumber: http://optimis.multiply.com/journal/item/37

Rasanya, hampir tak ada karyawan yang tidak mengimpikan jenjang karir. Siapa yang mau menjadi staf level terbawah terus-menerus selama dua puluh tahun? Masalahnya, meraih karir yang lebih baik ternyata bukan urusan mudah bagi sebagian besar orang. Struktur organisasi perusahaan yang seperti piramida sangat tidak memungkinkan setiap orang menjadi supervisor atau manajer bahkan direktur.

Maka, rasa jenuh akibat karir mentok pun tak terhindarkan. Jika sudah seperti ini, apa yang akan Anda lakukan?

Dewi, produser berita di sebuah stasiun radio, menceritakan kebosanannya ketika sebelumnya ia selama lima tahun bekerja di sebuah stasiun radio swasta di Jakarta. “Setelah dua tahun bekerja di sana, saya mulai bosan,” ujarnya.

Untungnya, pada saat bosan itulah ia menemukan jodoh alias suami. Maka, kebahagiaan berumah tangga, terlebih ketika ia akhirnya memiliki anak, menjadi penawar tersendiri terhadap kejenuhan tersebut. Tapi tentu saja, masalah yang ia hadapi tidak langsung lenyap tak berbekas.

“Idealnya, bekerja di sebuah media itu memang tak boleh terlalu lama. Sebab dalam kurun waktu yang lama, ia akan mengerjakan hal yang sama secara terus-menerus. Bosan, deh. Jadi kalau mau tetap eksis, kita harus mencari challenge lain,” ujarnya memberi alasan.

Maka, Dewi pun berusaha mencari tantangan baru tersebut. Ia beruntung karena akhirnya diterima bekerja di tempat yang sekarang, walau ia harus menunggu selama tiga tahun.

Nasib yang lebih baik dialami oleh Tri W, seorang karyawan di Bank Muamalat, Semarang. Ketika rasa jenuh mulai menghampirinya, perusahaannya yang menjadi pelopor bank syariah di Indonesia itu membuka cabang di beberapa daerah. “Saya pun diminta untuk ikut mengelola cabang Purwokerto,” ujarnya. Maka, ia kini menetap di kota tersebut, dengan karir yang jauh lebih baik.

Namun tentu saja, tidak semua orang seberuntung Dewi atau Tri, sebab mencari peluang baru tidaklah mudah, terlebih di era serba sulit seperti sekarang. Toni, seorang staf keuangan di sebuah perusahaan komputer di Jakarta misalnya, mengaku bosan dengan pekerjaan yang telah ia geluti selama enam tahun. “Hal yang membuat saya terhibur di sini adalah jaminan dana kesehatan yang sangat memadai, plus sistem kerja yang sangat manusiawi,” ujarnya. Tapi tentu saja, rasa bosan itu tetap ada.

Untuk mengatasi kejenuhannya, Toni mulai merintis sebuah usaha konsultasi perpajakan. Ia bahkan sudah punya badan usaha. “Nanti kalau usaha ini sudah berkembang, saya mau berhenti bekerja saja,” ujarnya.

* * *

Lantas, bagaimana cara mengatasi kejenuhan pekerjaan, terutama ketika karir sudah mentok? Eileen Rachman & Bintang Sitorus dalam tulisan mereka “Karir Mentok? Sudahkah Berinvestasi pada Diri Sendiri?”, mengatakan bahwa justru pada saat kita merasa ”helpless” itulah karir kita memang betul mentok. Sekarang bukan saatnya untuk mengharapkan pihak lain, atau perusahaan  bertanggungjawab atas pengembangan diri kita. Profesional yang berhasil adalah mereka yang meyakini bahwa tanggung jawab untuk masa depan dan pengembangan karir ada di tangan dirinya sendiri.

“Lihatlah kenyataan bahwa orang yang karirnya menanjak punya kebiasaan luar biasa yang menyebabkan dirinya tidak berhenti ”walk the extra mile” untuk berinvestasi di dalam dirinya,” tulis Eileen Rachman & Bintang Sitorus.

Berinvestasi pada diri sendiri, itulah yang disarankan oleh kedua penulis ini. Caranya adalah dengan terus meningkatkan keterampilan, ilmu dan wawasan. Kita bisa meningkatkan kemampuan manajerial, memperbaiki cara bergaul dengan orang lain, mengoptimalkan perangkat kerja seperti komputer, internet, handphone dan sebagainya untuk menunjang karir, dan seterusnya.

Kiat lainnya diberikan oleh Iqbal Irwansyah, staf Radio Access Network 3G di PT Ericsson Indonesia, Jakarta. Menurutnya, ketika dilanda bosan, kita bisa mencari variasi baru dalam bekerja. Misalnya kita biasa mengerjakan pekerjaan dengan cara A, sekarang coba dengan cara B.

Ia juga menyarankan agar kita tak pernah berhenti mencari ilmu yang baru, atau menyelesaikan pekerjaan dengan bobot yang lebih baik. “Insya Allah itu bisa mengurangi rasa jenuh,” ujar lulusan Politeknik Politeknik Negeri Jakarta ini.

Sementara itu, Yadi, seorang content editor di sebuah website yang berbasis di Jakarta, mengungkapkan pengalamannya dalam mengatasi rasa jenuh.

“Awalnya, saya merasa amat bosan karena karir saya sudah mentok, dan saya merasa hopeless banget. Sepertinya sudah tak ada jalan keluar. Bahkan ketika mencoba mencari pekerjaan lain, sampai sekarang belum berhasil juga,” ujarnya.

Kebosanan itu membuat kinerjanya merosot tajam. Semula, ia tak begitu mempedulikan hal ini. Tapi ia mulai sadar ketika teman-temannya satu tim mengucilkan dirinya dari pergaulan. Mereka ternyata merasa terganggu oleh pola kerja Yadi yang semakin buruk, sebab kesalahan seorang anggota tim tentu akan berpengaruh pada anggota tim lainnya. Selain itu, manajer Yadi mulai sering menegurnya karena melalaikan pekerjaan.

“Akhirnya saya merasa bersalah sendiri. Saya merasa berdosa karena seperti orang yang makan gaji buta. Kantor memberikan saya gaji yang besar, tapi saya seperti orang yang tak tahu balas budi,” ujarnya.

Maka, Yadi pun mencoba berubah. Kiat pertama yang ia terapkan adalah mencoba menghilangkan kebiasaan untuk menbanding-bandingkan dirinya dengan teman-temannya yang menurut dia jauh lebih sukses. “Saya harus bangga dengan apa yang saya miliki,” ujarnya.

Kedua, mengambil sisi positif dari setiap pekerjaan yang ia lakukan, termasuk pekerjaan yang paling membosankan sekalipun. Contohnya, salah satu tugasnya di kantor adalah men-scan dokumen cetak ke komputer, sebuah pekerjaan yang sebenarnya sepele, tapi memakan waktu yang tidak sedikit. “Semula saya bosan dengan pekerjaan seperti ini. Tapi ternyata, sambil menunggu pekerjaan scan selesai, saya bisa membaca koran atau majalah. Artinya, justru pekerjaan seperti ini membuka peluang bagi saya untuk menambah wawasan,” ujarnya.

Ketiga, bersikap ikhlas. Setelah dipelajari, Yadi mengakui bahwa ternyata salah satu penyebab kebosanan dia adalah karena ia merasa “tidak level” untuk mengerjakan tugas-tugas kantor yang baginya terlalu sepele. “Sekarang, saya mencoba menikmati saja pekerjaan-pekerjaan seperti itu. Ikhlas deh pokoknya. Saya yakin, ini adalah sumber rezeki yang terbaik dari Allah buat saya saat ini., Tapi agar otak saya berkembang, saya mencari kegiatan-kegiatan yang lebih berbobot di luar jam kerja,” ujarnya.

Keempat, meningkatkan komunikasi dan silaturahmi dengan teman-teman satu tim. Selama ini, banyak teman yang “memusuhi” dia karena mereka tidak mengetahui masalah apa yang sedang dihadapinya. Tapi setelah Yadi curhat pada mereka, ternyata mereka pun menghadapi masalah yang lebih kurang sama. “Saya jadi kagum karena mereka bisa tetap bekerja dengan baik walau ada rasa bosan. Saya jadi termotivasi untuk meniru mereka.”

Kelima, berani berinisiatif. Yadi mencoba mengerjakan beberapa pekerjaan yang sebenarnya bukan bagian dari job discription dia. Misalnya, ia membantu mengerjakan tugas-tugas teman satu timnya. Alasan Yadi, “Saya merasa punya kompetensi untuk mengerjakan tugas itu. Tapi tentu saja, saya harus membicarakan hal ini dengan mereka, juga dengan manajer saya, agar tak ada salah paham,” Ujarnya.

Dan keenam, tentu saja dengan terus berusaha mencintai pekerjaan. Sebab walaupun sangat menbosankan, pekerjaan itulah yang menjadi sumber rezekinya selama ini. “Saya juga berdoa agar Allah memberikan jalan bagi saya untuk bisa mencintai pekerjaan dengan tulus,” ujarnya. (*)