http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/08/23/3-alasan-utama-orang-keberatan-hidup-sederhana/

Meskipun manfaat hidup sederhana sangat jelas dari segi financial, lingkungan hidup dan kesehatan,banyak teman-teman saya yang tetap enggan menjalani hidup sederhana. Lewat tulisan ini saya ingin merespon keberatan-keberatan mereka.

“Kita cuma hidup sekali jadi harus dinikmati semaksimum mungkin”

Ini salah satu mitos hidup sederhana terbesar. Dengan menjalani hidup sederhana bukan berarti kita tidak mengeluarkan uang untuk bersenang-senang sama sekali. Gambaran ‘hidup enak’ dalam konteks budaya konsumtif materialistik sering kali mengacu pada iklan, artis, kehidupan tokoh dalam sinetron dan media massa lainnya sebagai panduan. Bergaya hidup sederhana berarti kita mengambil kontrol kembali kepada diri kita sendiri. Kita menolak untuk didikte apa itu hidup enak oleh budaya konsumtif. Kita menolak menjadi budak oleh perusahaan yang mengatakan produk mereka dapat menyelesaikan masalah psikologis kita, misal: membeli barang bermerek untuk meningkatkan percaya diri hanya untuk diganti beberapa bulan kemudian karena out of fashion dan membius kita kembali untuk membeli biar ‘up-to-date’.

Jadi kita tidak usah mengeluarkan uang untuk bersenang-senang? Jawaban saya keluarkanlah uang untuk hal yang benar-benar anda hargai alias meningkatkan kualitas hidup anda. Saya ulangi: benar-benar anda hargai bukan hal yang masuk kategori ‘bagus kalau punya lagian sangup beli’. Contohnya, teman wanita saya punya hobi travelling. Travelling pun gak tanggung-tanggung, suka ke Eropa. Dia sadar hobi dia perlu uang banyak tapi dia punya cita-cita melihat dunia sebelum meninggal dan pengalaman yang didapat dari travelling sangat berharga buat dia. Tidak seperti teman-teman wanita sekitarnya, dia tidak suka shopping apa lagi beli barang buat gengsi dan baju demi up to date sama fashion. “Gue tau prioritas gue” katanya(*).

(*) Baca: gue tau bener apa yang benar-benar gue hargai dan bikin gue happy secara pribadi bukan karena ikut-ikutan.

Kalau kita secara latah/tanpa berpikir mengeluarkan uang untuk semua ‘kesenangan’ yang bisa ditawarkan dunia cepat atau lambat kita harus membayar lewat kerja lebih keras & panjang (tetap di rat race), ngutang atau jalan singkat: korupsi untuk menopang gaya hidup konsumtif.

Bersenang-senanglah menurut selera anda pribadi bukan ikut-ikutan dan tetap ingat dengan prioritas hidup anda. Omong-omong soal gaya hidup konsumtif, seandainya anda tahu akan meninggal beberapa saat lagi, saya 100% nyakin anda tidak akan berpikir: “Benar-benar nyesel belum pernah punya rumah dan mobil mewah selagi masih hidup.”

The most valuable thing in life is not thing

 

“Penampilan penting untuk membangun kepercayaan dan kesan pertama”

Mendiang Steve Jobs mempresentasikan Steve’s Note memakai jeans dan baju sweater sederhana. Mark Zuckerberg suka pakai hoodies kemana-mana dan pendiri Google bisa jadi orang milyader paling sederhana dan sama juga dengan Warren Buffett. Dan yang tidak kalah pentingnya bos saya punya bos, Head of Finance Operation, memakai baju setelan warna biru yang sama tiap hari dan jam tangan yang kelihatan murah (mungkin mahal soal saya gak ngerti merek).

Suatu hari saya bertemu dia di lift dan ngobrol-ngobrol ringan: “anda suka warna biru ya, saya perhartiin anda pakai baju yang sama tiap hari“. Dia tertawa dan bilang: “dulu saya pakai warna putih sampai akhirnya ada yang kasih tahu saya lebih cocok pakai biru. Saya tidak mau menghabiskan banyak waktu di pagi hari untuk berpikir apa yang perlu saya pakai“.

Pelajarannya: PRESTASI KERJA ANDA BERBICARA JAUH LEBIH KERAS DIBANDING PENAMPILAN ANDA. Mungkin programmer yang saya sebut diatas keasyikan mengerjai kode-kode pemograman, Jobs terlalu sibuk merealisasikan produk elektronik baru yang revolusioner dan head of finance saya terlalu sibuk membangun karir dan project berikutnya.

Tapi pekerjaan mereka tidak usah berhadapan dengan klien mungkin pikir anda. Apakah calon investor dan board of directors bukan klien mereka? Saya mengunjungi beberapa home loan managers ketika mengajukan permohonan pemijaman uang untuk beli rumah dan seingat saya mereka terlihat seperti orang yang mau pergi interview pada umumnya: jas hitam dan rapi tanpa ada embel2 barang bermerek untuk membuat saya terkesan pada mereka.

Karena kebanyakan kompasianer bukan selebritis yang selalu dikejar paparazzi, rileks saja tidak usah terobsesi dengan penampilan. Tes asumsi anda mengenai hubungan penampilan dan kesan pertama dan bereksperimenlah. Saya pribadi waktu masih pendekatan dengan istri saya dulu selalu berpenampilan sederhana dan untungnya dia terima dan sebagai wanita dia tidak matre2 amat. Perhatikan apakah tiba-tiba sahabat anda menghilang hanya karena anda memakai baju yang lebih rileks dan sederhana (bukan berpenampilan seperti gembel =)).

“Barang berkualitas biasa memang mahal dan bermerek”

Untuk yang satu ini saya setuju dalam beberapa hal. Hidup sederhana mengacu pada kualitas bukan kuantitas. Lebih baik memiliki sedikit barang yang berkualitas tinggi yang berguna dalam hidup sehari-hari daripada punya barang banyak tapi cepat rusak. Namun perlu dicatat bahwa ‘kualitas’ dalam konteks hidup sederhana menitik beratkan pada azas manfaat yang tinggi/fit for purposedalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, saya tidak ragu-ragu membayar premium untuk ranjang (1/3 waktu kita dihabiskan diranjang), sepatu (saya banyak berjalan) dan laptop (saya pakai untuk menulis, research dsb) karena saya pakai setiap hari dan saya harap bertahan sampai bertahun-tahun.

Bagaimana dengan ‘berkualitas’ lainnya seperti baju designer terkenal? Buat saya pribadi saya tidak peduli, asal enak dipakai model gak jelek2 amat saya pakai meskipun sudah bertahun-tahun. Saya pakai baju bukan merek.