Kala matahari tenggelam, langit senja pun berangsur-angsur menjadi gelap. Takbir mulai menggema, tanda azan telah berkumandang. Semarak masjid diramaikan oleh langkah-langkah riang anak-anak, menyertai jama’ah yang mulai berdatangan. Di dalam masjid, jama’ah khusyuk menghadap Rabb-nya. Mereka bermunajat, bersujud, menghinakan diri pada Penciptanya. Usai solat, takbir bersahut-sahutan, terdengar keras dari corong suara di atas masjid. Tak terasa, Syawal telah menyambut kita. Bulan telah berganti, Ramadhan berada pada masa akhirnya. Entah, mungkinkah tahun esok kita masih menjumpainya. Namun, yang patut kita renungi, apa yang telah kita perbuat pada Ramadhan kali ini. Dikala masjid-masjid saling bersahut-sahutan takbir, haruskah kita duduk merenung, menyesali atau bahkan menangisi kelalaian kita. Ramadhan seolah berlalu tanpa kita dapat berbuat banyak untuk mengisinya dengan amal kebaikan. Pantaskah kita merayakan kemenangan sejati pada hari yang fitri, atau kita hanya menjadi pecundang, merasakan kemenangan semu, karena kita meraih kemenangan tanpa ikut lelah berperang.

Saya lebih mementingkan pekerjaan kantor, ramadhan hanya dijadikan momen puasa menahan lapar dan haus saja, just menunaikan kewajiban, tdk diisi dengan usaha atau pengorbanan misalnya melawan malas, ngantuk, pokoknya tdk ada yang gigih dilakukan utk meraih amalan ramadhan.